IPB, Institut Pertanian Bogor, orang-orang awam yang membacanya pasti menyangka kalau IPB merupakan embrio untuk pertanian masa depan. Di Kampus inilah para ahli pertanian digodok dan ditempa. Ya, semua hanya demi satu tujuan memiliki pakar-pakar pertanian yang nantinya akan menjadi panutan, pemimpin, panduan, penyuluh, dsb, dsb..
Sayapun tak sabar menanti hal itu, ketika masih menuntut ilmu disana, banyak mimpi dan doa yang digantungkan disana. Mimpi, doa dan harapan dari petani, mahasiswa, orang tua, dosen, dan segala civitas yang berkaitan dengan pertanian secara modern serta para pemimpi yang mengidamkan peningkatan kemakmuran rakyat.
Namun, nyatanya ketika kelulusan itu tiba, para akademika berangsur menjauh dari pertanian, melangkahkan kakinya ke arah yang tak terpikirkan sebelumnya. Dunia yang mungkin terkadang jauh dari tanah pertanian, dan mendekat pada kapitalisme. Kami tiba-tiba saja terdorong arus zaman, gelombang pasang dalam memenuhi kebutuhan paling mendasar. Tiba-tiba kami para penerus bangsa yang dulu memiliki mimpi untuk menjadikan pertanian Indonesia maju dan menjadi pemimpin dunia, kini kehilangan arah, kehilangan pegangan, bahkan kami kehilangan sebuah harga diri, tak lagi berani bermimpi.
Lalu saya termenung, terpekur sendiri, apa yang salah, mengapa selama 4 tahun komitmen kami, lebur begitu saja. Dosakah ini, pengkhianatkah kami?
kami berupaya sekuat tenaga, membanting tulang,otak dan bahkan menggadaikan mimpi, apa yang salah disini, bukankan hanya butuh satu part puzzle lagi, hingga semua menjadi nyata. Semua telah diberi, diupayakan dan dikorbankan, lalu mengapa pertanianku masih begini???jauh dari sejahtera, kami para petani dan para cendekia tetap tak mampu berdiri, sekali lagi, apa yang salah??
Saat kami lulus, tiba2 saja ujian yang biasa kami jalani di kertas ataupun di lahan-lahan pertanian bahkan di laboratorium, entah berbentuk ruang dengan tabung-tabung atau hanya sekedar laboratorium komputer, semuanya berubah, semua menjadi lebih nyata. Kami memang pernah bermimpi atau sekedar bertekad dalam hati, tapi lihat betapa rapuhnya kami, kami bahkan terlalu malu untuk berdiri, untuk sekedar mendongakkan kepala, dan mengakui bahwa kami alumni pertanian dari salah satu institusi pertanian yang kata orang terbaik di negeri kami ini. Kami tersapu arus, gelombang yang datang terlalu besar, tak mampu menahan ujian, kami lemah dan menggadaikan cita-cita. Sebulan 2 bulan setelah kelulusan kami tetap bertekad untuk bekerja di bidang pertanian, tapi hitungan bulan makin bertambah dan keuangan semakin berkurang, kami yang punya janji suci ternyata juga butuh makan, belum lagi orang tua di kampung dan adik2 butuh uang untuk sekolah, kami tak ada pilihan. Sedikitnya kesempatan kerja di Indonesia di bidang pertanian nyatanya tak memberi kami jaminan untuk berbakti pada pertiwi. Kami sungguh bukan ingin berkhianat hanya memenui kebutuhan dasar untuk hidup, dan industri memberikan kami kesempatan untuk kembali bermimpi, kami terlempar pada perusahaan perbankan dan keuangan, dan industri lain yang jauh dari pengembangan pertanian secara rill. Maaf hanya itu yang bisa kami katakan, bukan sepenuhnya salah kami.
Andai IPB punya kemampuan mengembangkan perusahaan Agribisnis dari hulu sampai hilir, tentu kami dapat terserap, dapat termanfaatkan dengan baik dan dapat berbakti, kami tak perlu menggadaikan harga diri, membuang hari dengan sesuatu yang jauh dari visi. Kami hanya bisa bermimpi, mimpi untuk IPB dan pertiwi.Do'a kami untuk IPB.