Minggu, 29 September 2013

dibuang sayang

“API IDEOLOGI”
Kami para mahasiswa, pada hari ini gegap gempita. Toga-toga tersemat rapi, melekat ketat pada kepala kami, meski beberapa terlihat kedodoran pada sosok bertubuh mini. Tapi sebagaimana seragam hitam yang kami kenakan begitu pula perasaan kami hari ini, serempak untuk bahagia, bersuka, bergembira atau apapun paduan kata yang menggambarkannya, entah lega, haru, riang dan bersemangat. Kami dibanjiri optimisme.
Kami berbangga hari ini, berlagak seorang raja sehari dan bak pahlawan yang disambut dari kemenangan setelah menjalani peperangan. Kami pahlawan, kami lah masa depan, dan kami lah mahluk-mahluk paling bermakna yang akan membangun negeri ini. Selamat datang masa depan, cerah dan sukses menanti  dan bersiaga memeluk raga kami yang muda ini. Kami mahasiswa pertanian, selalu berideologi memajukan pertanian nasional, cita-cita bangsa memakmurkan petani, memberi kebijakan, mensubsidi dan melayani. Target kami tidak terbatas pada swasembada, melainkan pemenuhan kebutuhan seluruh bumi.  Mengapa kami begitu yakin? Begitu Optimis? Ya, karena kami diberitahu dan kami mencari tahu, bangsa kita ini kaya, bangsa mandiri, berbudi dan berpekerti, bangsa subur dan makmur serta berlimpah sumber intelektual sejati. Kami yakini dan kami mengimani.
Hari ini kami mengambil gambar, bergaya dan mematut senyum terbaik yang kami miliki. Mencari angle terbaik yang sering kami lakoni. Kami berusaha mematri perasaan-perasaan hari ini, berjaga kalau sewaktu-waktu cita-cita kami memudar. Mengingat masa ini sehingga kami kuat dan berkobar lagi.
Sebulan sudah berlalu. Kami mulai berpacu dengan waktu, mengcopy ijasah dan CV sebanyak-banyaknya. Menghadiri job fair dan para pemberi hati. Waktu bergulir semakin cepat, terpaksa kami menggunakan teknologi untuk mengimbanginya. Ya teknologi, alat yang sangat kami agungkan saat ini. Dengan sekali klik berpuluh lamaran berlari bagai bayangan. Tak butuh hari atau hitungan jam yang berarti , semua serba praktis, serba cepat dan serba gratis. Lalu kami menunggu,menunggu, dan menunggu. Seringkali tak ada kualifikasi namun kami terjang dan terus membabi buta.
Bulan demi bulan, beberapa tumbang. Melupakan jati diri kami. Manakah yang lebih berideologi? ‘Harga diri atau Kemiskinan’. Uang kami menipis, tak sanggup lagi membayangkan jika akan ada bulan-bulan seperti hari ini. Subsidi telah terhenti kalaupun ada kami tak berani. Kami terpaksa menggadaikan harga diri, ideologi , cita-cita dan janji suci. Hangus sudah. Terbakar api kemiskinan yang menggerogoti.
Separuh sudah yang menyerah, tak pernah mengenal lagi arti pertanian. Beberapa menyesali mengambil jurusan ini, beberapa mengutuk dalam hati. “Jika saja begini nasib kami, tentu aku tak sudi, sudah menggadaikan harga diri, ditumbuhi jamur frustasi dan ditenggelamkan oleh rasa tak percaya diri”. Ditolak berpuluh perusahaan bukan hanya menyakitkan tapi bak parasit yang menggerogoti kesehatan jiwa. Kami merasa tak mampu, tak berdaya dan tak berguna. Apa yang salah?? Ya kami kehilangan kepercayaan diri, bagaimana mungkin harus mempertahankan kepercayaan pada kemajuan pertanian.
Kami berlomba mencari tambang penerus kehidupan, ‘tidak, kami tidak berharap kaya, kami tidak serakus itu, kami hanya bersedih karena dihadapkan pada pilihan’. Sebagaimana ‘opportunity cost’ yang kami pelajari di perkuliahan, kami harus memilih, mana yang akan kami korbankan? Ideologi atau perut lapar Ibu dan adik-adik kami, pinjaman tetanggapun harus segera dilunasi, maka ego kami harus ‘diprihatinisasi’. Mahal, terlalu mahal bagi kami untuk membayar ideologi, kami tak mampu membelinya, kami tak sanggup mempertahankannya, terlalu banyak yang harus dikorbankan. Kami menyerah, mungkin nanti. Maafkan kami petani.
Tanah-tanah kalian akan tetap kering pada musim kemarau, sayur-sayur akan tetap busuk di musim penghujan, cuaca buruk akan menghantam perekonomian kalian, harga melantai ketika panen raya tiba dan sistem ijon tetap setia berkuasa. Padi-padi akan tetap dibanjiri air dengan hasil panen tak pernah menentu, pupuk-pupuk akan terus tak terbeli dan organik seringkali hanya cerita di kota, para petani berdasi. Kalian yang menanam padi akan terus mendambakan nasi untuk pangan sehari.
Bulan bertambah lagi, kamipun bertransformasi, lahan-lahan kami mulai berwujud gedung pencakar langit. Kami bertebaran dimana-mana, sebagai jurnalis, ekonom, banker, editor, Prajurit dan terkadang debt collector. Kami sudah lupa, benar-benar lupa atau memang tak peduli lagi. Kami terlalu sibuk dengan urusan kami kini. Hari-hari dimana kami berdiskusi, mencari solusi, dan formulasi yang tepat sebagai ‘blue print’ untuk kesejahteraan petani. Kami berkutat pada diri sendiri, orientasi kami beradaptasi, tak bisa lagi dipungkiri, Kami menjadi mahluk kota sejati.
Udara sejuk telah berganti menjadi uap-uap kelabu, mengepul ke udara, kelam dan pekat. Karbon monoksida kendaraan dan pabrik berlomba mencapai langit. Suara-suara bising memekik, tak pernah hening di tempat yang baru ini. Surga dunia untuk yang sukses dan bagai neraka bagi yang tak berpunya.
Damai telah menjadi sesuatu yang langka, dateline dan pressure nyaris membuat kami gila. Macet dan kesemrawutan mengajarkan kami untuk mempertipis kesabaran. Penat dan stress yang menjadi-jadi. Di sini dituntut untuk memaki, tidak sopan ataupun egois. Atas nama pekerjaan dan tenggat waktu kami menggadaikan bumi pekerti. Berteriak, mengutuk dan membanting pintu tak perlu dilihat dalam drama, semua dapat ditemui di jalan raya. Dan semua itu nyata.
Kami kini berubah menjadi mesin pekerja, sebagaimana telah diramalkan pada abad-abad sebelumnya, masa depan akan dikuasai oleh mesin dan robot. Ya itulah nama lain kami kini. Fungsi kami sama. Bekerja, bekerja dan bekerja. Bukankah itu manusiawi, demi profesionalitas, demi  pemenuhan kebutuhan. Hak dasar yang paling hakiki ‘bertahan hidup’. Kami tak ada pilihan dan tak banyak pilihan.
“Ah, andai saja dulu kupahami, untuk menjadi bangsa maju tak perlu menjadi bangsa yang kaya hasil bumi, tentu takkan sekecewa ini’.
“Ah, andai kutahu untuk merumuskan kebijakan pertanian tidak diperlukan mahasiswa sejati , tapi politik masa kini, tentu aku takkan merasa sebodoh ini”.
“Ah, andai kutahu berkuliah hasilnya seperti ini, tentu aku lebih memilih menjadi petani, karena tak harus menonton para politisi mencari kebenaran dan mengabaikan keadaan,  keadaan miris para petani”.
Yah setidaknya petani sudah mandiri sejak dulu, suatu hal yang pantas disyukuri para politisi, dan seharusnya mereka bersyukur, petani bangsa ini tak terlalu banyak tuntutan, mereka membumi dan terus saja memaklumi para pendiri negeri.
“Lihat aku kini, aku bagai mumi dan manusia setengah tani”. Mahluk  tanpa jati diri dan kehilangan budi pekerti.  Dipenuhi daki tiap hari dan menjadi kuli bahkan bukan di ladang sendiri.
Habis sudah, tak tersisa lagi, spesies kami yang dulu telah bereinkarnasi, tak terlalu memahami atau sekedar peduli pada agri.
Pagi ini dimulai lagi, hari-hari yang jauh dari asri, berhimpitan di kereta ekonomi yang tak manusiawi. Menciumi bau ketiak, asap rokok, dan tercampur dengan aroma kambing jantan yang pekat. Jangan berharap duduk, berdiri sempurnapun takkan mampu kulakoni. Saat seperti ini, pelecehan seksual bahkan tak terdefinisi, semua saling menempel, terlalu rekat, bahkan pencopet pun sulit beraksi. Keringat kami tak lagi asin, melainkan beraroma dan terasa pahit. Anak-anak seumur jagung memanjat cepat ke atap gerbong, lebih lincah dari seekor tupai. Ya kurasa di atap lebih manusiawi, setidaknya terhindar dari pelecehan seksual dan bisa menghirup udara sepuasnya. Tapi kami tetap membisu, kami tak tahu harus mengadu pada siapa tentang semua masalah ini. Kami terbiasa diajarkan untuk memaklumi. Dan sekali ajaran itu terbentuk selamanya akan menjadi sebuah kebiasaan. Bukankah kami bangsa yang baik hati?
Lelah rasanya badan berdiri, kaki tak sanggup lagi menahan tekanan gelombang manusia, kami berhimpitan, berhimpitan dalam arti sebenarnya tanpa ada majas-majas yang mendefinisi atau hiperbola yang menjadi-jadi. Semua apa adanya, sebagaimana terlihat dan terasa. Berkali-kali kami terombang-ambing terbawa arus manusia yang bahkan tak akan terjatuh meski tak berpegangan karena kami terpadati dan ternaungi tubuh-tubuh manusia. Tak ada yang mampu menopang, kami hanya pasrah karena gelombang menerjang.
Dikantor, yang kami pandangi hanya mesin bernama komputer, mengetak-ngetik dan sakit kepala berdentam-dentam adalah menu sehari-hari. Kami tak pernah lagi mencium bau rumput yang diterbangkan angin atau pembiakan bakteri untuk kesuburan hayati.
Sungguh kusadari, pagi ini ketika membongkar laci kerjaku yang bahkan tak pernah sempat kurapikan. Tegeletak begitu saja. Foto wisuda yang menguning, terkena tumpahan tinta yang sudah mengering di ujungnya. Kubalik foto itu, tertera tahun 2006.


“Oh… “, aku mengerang. Tujuh tahun sudah aku begini. Ingin kunyalakan api cita-cita yang dulu pernah terpatri atau sekedar mengipasi bara yang nyaris mati. Lelehan hangat membasahi pipiku. Terlambatkah jika ku kembali??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar